JAKARTA — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, sejumlah konglomerat dunia diam-diam mulai berinvestasi di sektor pertanian dengan membeli lahan skala besar.
Langkah itu dilakukan di tengah ancaman krisis pangan global.
"Para konglomerat mulai terjun ke sektor pertanian secara diam-diam dengan membeli lahan pertanian skala besar," kata Amran dalam Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Baca Juga: Viral Ucapan Saiful Mujani soal “Jatuhkan Prabowo”, Istana Pilih Santai: Presiden Fokus Urusan Besar Dalam rapat tersebut, Amran membacakan laporan FAO yang menyebutkan sekitar 724 juta penduduk dunia mengalami kelaparan.
Kondisi ini diperparah oleh peperangan yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat (AS) melawan Iran, yang menutup Selat Hormuz — jalur distribusi produk fosil dan petrokimia penting dari negara-negara Teluk.
"Situasi ini mengancam kelaparan bagi 40 juta orang," ujar Amran.
Selain membeli lahan, para konglomerat juga menggelontorkan investasi pada agribisnis, teknologi pangan, dan pembangunan ekosistem pertanian berbasis inovasi.
Dengan latar situasi global tersebut, sektor pertanian diproyeksikan menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat hingga 2030.
Amran menekankan, inovasi berbasis data, bioteknologi, hingga vertical farming kini menjadikan pangan sebagai aset strategis dalam stabilitas ekonomi dan ketahanan dunia.
Di dalam negeri, Indonesia menghadapi ancaman kemarau ekstrem akibat fenomena El Nino Godzilla.
Data BMKG memperkirakan kemarau dimulai April di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan puncaknya pada Agustus.
Meski demikian, Amran memastikan stok beras nasional aman. Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di gudang Bulog mencapai 4,6 juta ton, ditambah belasan juta ton dari sektor swasta.