JAKARTA – Linimasa media sosial X ramai membahas isu pemadaman listrik global yang disebut akan terjadi pada Kamis (2/4/2026).
Informasi ini pertama kali diunggah oleh akun X @Dam***** pada Senin (30/3/2026), yang mengklaim pemadaman listrik dipicu oleh konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Unggahan itu menyebutkan bahwa konflik tersebut berdampak pada penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi terpenting dunia, sehingga pembangkit listrik kesulitan memperoleh bahan bakar dan kota-kota akan diliputi kegelapan.
Baca Juga: Medan Siap Wujudkan Pengolahan Sampah Jadi Listrik, Butuh Rp1,7 Triliun Ilustrasi Bumi gelap dengan tulisan "Blackout All Over the World, April 2, 2026" turut memperkuat narasi tersebut.
Namun, klaim itu dibantah oleh PLN.
Manager Komunikasi dan TJSL PLN Unit Induk Distribusi Jawa Timur, Dana Puspita Sari, menegaskan bahwa informasi pemadaman listrik global, termasuk di Indonesia, tidak benar.
"Menanggapi informasi yang beredar di masyarakat terkait adanya pemadaman listrik tanggal 2 April 2026, kami menyampaikan bahwa hal itu tidak terjadi di kita," ujarnya saat dimintai konfirmasi, Rabu (1/4/2026).
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya atau menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi.
Penutupan Selat Hormuz terjadi setelah serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026.
Iran menanggapi dengan memblokade jalur tersebut, menghambat distribusi energi global.
Meski kini beberapa negara mulai diizinkan melintas, gangguan rantai pasokan diperkirakan masih berlangsung.
Direktur Senior Komunikasi Korporat perusahaan pelayaran Jerman, Hapag-Lloyd, Nils Haupt, menyebut, "Ketika perang secara resmi berakhir, bukan berarti dampaknya selesai. Justru saat itu pekerjaan logistik yang sebenarnya dimulai."