JAKARTA– Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa Indonesia sudah mengidentifikasi pemasok baru minyak mentah untuk menggantikan ketergantungan pasokan dari Timur Tengah.
Hal ini muncul sebagai respons terhadap ketidakpastian di kawasan tersebut akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, yang menyebabkan terganggunya rantai pasokan minyak melalui Selat Hormuz.
Bahlil menegaskan bahwa kebutuhan minyak mentah Indonesia mencapai 20 persen dari total konsumsi nasional, dan pasokan tersebut harus segera dipenuhi seiring dengan terus meningkatnya konsumsi energi domestik.
Baca Juga: KPK Pastikan Keberadaan Asrul Aziz di Luar Negeri Tidak Menghambat Penyidikan Kasus Kuota Haji "Pemerintah sudah tidak bisa bergantung lagi pada Timur Tengah untuk pasokan minyak mentah. Kita harus mencari alternatif lain, dan Alhamdulillah, kami sudah menemukan solusi tersebut," ujar Bahlil dalam konferensi pers pada Selasa, 31 Maret 2026.
Pemasok Alternatif: Amerika Serikat atau Rusia?
Dalam upaya diversifikasi pasokan, Indonesia kini tengah mengandalkan Amerika Serikat dan Rusia, dua negara dengan kapasitas produksi minyak terbesar di dunia.
Amerika Serikat, yang memproduksi hingga 20 juta barel per hari, dianggap sebagai pilihan utama, meskipun negara-negara penghasil minyak lainnya, seperti Rusia, juga memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan Indonesia.
Menurut data yang dihimpun, produksi minyak Rusia mencapai 10,8 juta barel per hari, sementara Amerika Serikat mendominasi produksi global.
Cadangan minyak terbesar dunia, yang kini dikuasai Amerika Serikat, memberi negara tersebut keuntungan besar dalam menjaga kestabilan pasokan global, termasuk untuk negara-negara seperti Indonesia.
Diversifikasi Sumber Energi
Selain minyak mentah, Indonesia juga menghadapi tantangan besar dalam memastikan pasokan gas. Namun, Bahlil menegaskan bahwa untuk sektor BBM, Indonesia sudah mampu memproduksi sebagian besar bensin melalui kilang Pertamina di Balikpapan.
Kapasitas kilang ini diperkirakan dapat menghasilkan 5,6 juta kiloliter bensin dan 4,5 juta kiloliter solar, cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik.