JAKARTA – Pemerintah Indonesia mempercepat pengembangan bahan bakar nabati berbasis etanol sebagai respons terhadap tekanan krisis energi global.
Kebijakan ini difokuskan pada hilirisasi sektor pertanian melalui pemanfaatan komoditas domestik seperti jagung, ubi, dan tebu.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan langkah ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat transisi menuju energi alternatif berbasis sumber daya dalam negeri.
Baca Juga: Bertemu Prabowo di Tokyo, Warga Indonesia di Jepang Sampaikan Haru dan Bahagia Salah satu target utama adalah penerapan bahan bakar E20, yaitu bensin dengan campuran etanol sebesar 20 persen.
"Di tengah kondisi geopolitik yang memanas, kita membutuhkan langkah cepat. Hilirisasi biofuel menjadi bagian penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional," kata Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (30/3/2026).
Menurut Amran, Indonesia memiliki keunggulan sumber daya alam yang memungkinkan pengembangan bioetanol secara masif. Komoditas seperti jagung, ubi, dan tebu dinilai tersedia luas dan dapat dioptimalkan untuk mendukung produksi energi alternatif.
Ia juga mencontohkan keberhasilan Brasil dalam mengembangkan bahan bakar berbasis etanol, dengan tingkat campuran mencapai E27 hingga E37.
Indonesia, kata dia, menargetkan lompatan langsung ke implementasi E20 sebagai tahap awal menuju kemandirian energi.
"Artinya ke depan kita bisa mandiri energi sekaligus mandiri pangan. Ini langkah strategis jangka panjang," ujarnya.
Pemerintah memandang kebijakan ini tidak hanya sebagai solusi jangka pendek menghadapi krisis energi, tetapi juga sebagai fondasi transformasi ekonomi berbasis hilirisasi yang berkelanjutan.*
(oz/dh)