JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi akan kembali mendapat tekanan pada pekan depan.
Mata uang Garuda berpotensi menembus level psikologis baru, yaitu Rp17.100 per dolar AS, seiring menguatnya indeks dolar dan krisis energi global.
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan dalam analisanya bahwa penguatan dolar AS diproyeksikan bergerak di kisaran 99,300–101,600, yang secara langsung melemahkan mata uang negara berkembang termasuk Indonesia.
Baca Juga: AS Perkuat Keberadaan Militer di Timur Tengah dengan 3.500 Pasukan Tambahan, Rencana Serangan Darat ke Iran? "Rupiah kemungkinan besar akan menuju level Rp17.100. Ingat Rp17.100," tegas Ibrahim, Minggu (29/3/2026).
Menurutnya, faktor utama pelemahan rupiah adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya ancaman pemblokiran Selat Hormuz, serta eskalasi militer yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Hal ini menyebabkan produksi minyak global turun hingga 10 juta barel per hari.
Tak hanya itu, serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak di Rusia juga menambah tekanan pada pasokan energi dunia, memicu kelangkaan energi dan mengerek harga minyak.
Di sisi domestik Amerika Serikat, tingkat kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Donald Trump menurun di bawah 40 persen akibat harga bahan bakar yang tinggi.
Pasar kini menanti kepemimpinan Kevin Hoss di Bank Sentral AS pada April mendatang, yang diperkirakan akan menurunkan suku bunga meski inflasi tetap tinggi.
Di tengah volatilitas mata uang global, Bank Sentral banyak negara terus melakukan aksi beli logam mulia sebagai instrumen lindung nilai. Pelemahan rupiah dinilai justru menahan koreksi harga emas di dalam negeri.
Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,45 persen ke Rp16.980 per dolar AS. Sementara Jisdor Bank Indonesia mencatat pelemahan 0,32 persen ke Rp16.957 per dolar AS.
Berdasarkan analisis Ibrahim, pada Senin (30/3/2026), rupiah diprediksi bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah di kisaran Rp16.980 – Rp17.030 per dolar AS.*