JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, gejolak harga minyak dunia akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tidak akan menyebabkan resesi di Indonesia.
Meski banyak pihak memperkirakan harga minyak bisa menembus US$ 200 per barel, Purbaya menilai skenario itu lebih berdampak pada Amerika Serikat dibandingkan Indonesia.
"Coba lihat Amerika sekarang, BBM naik hampir 100% di sana, rakyat mulai marah. Kalau sampai US$ 150, jatuh Trump, bukan kita. Kita masih aman di sini," ujar Purbaya di kantornya, Jakarta Pusat yang dikutip, Kamis (26/3/2026).
Baca Juga: Selat Hormuz Kembali Dibuka, Tapi Indonesia Masih Tertinggal Purbaya menegur sejumlah ekonom yang sering menyebarkan prediksi bahwa Indonesia akan resesi karena kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah.
Menurutnya, pernyataan itu justru menimbulkan sentimen negatif di masyarakat.
"Saya nggak anti kritik, tapi jangan bilang 'dua bulan lagi ekonomi Indonesia hancur, akan resesi karena harga minyak US$ 200 per barel'. Kalau sampai US$ 200 per barel, semua dunia resesi. Tenang saja, nggak usah pusing," tambahnya.
Purbaya juga menekankan pentingnya analisis berbasis data ekonomi yang jelas, bukan hanya spekulasi.
"Kalau ekonom yang benar, mereka akan memakai estimasi berdasarkan data historis dan metode yang jelas," ujarnya.
Dengan penegasan ini, pemerintah ingin memberi sinyal bahwa Indonesia cukup tangguh menghadapi fluktuasi harga minyak global, meski konflik di kawasan Asia Barat masih berlangsung.*
(d/dh)