JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Kamis, 26 Maret 2026.
Di pasar spot, rupiah terapresiasi 0,15 persen ke level Rp16.885 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi di tengah dinamika global yang masih diliputi ketidakpastian, termasuk kenaikan harga minyak mentah yang kembali menembus level US$100 per barel serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Baca Juga: IHSG Dibuka Menguat ke 7.316, Saham Big Caps Perbankan Pimpin Kenaikan Meski demikian, indeks dolar AS tercatat masih menguat tipis sebesar 0,02 persen ke level 99,61. Kondisi ini membuat mayoritas mata uang Asia tertekan.
Ringgit Malaysia melemah paling dalam sebesar 0,48 persen, diikuti baht Thailand 0,38 persen dan won Korea Selatan 0,34 persen.
Mata uang lain seperti peso Filipina, yuan offshore, dan yuan China juga mengalami pelemahan terbatas.
Sebaliknya, rupiah justru mampu bertahan di zona hijau bersama dolar Taiwan yang menguat 0,17 persen.
Dengan capaian ini, rupiah menjadi mata uang dengan performa terbaik kedua di kawasan Asia pada pagi hari.
Penguatan rupiah terjadi di tengah memudarnya sentimen positif pasar terkait upaya de-eskalasi konflik di Timur Tengah.
Proposal perdamaian yang diajukan oleh Amerika Serikat ditolak oleh Iran, meski pemerintah AS, di bawah Presiden Donald Trump, menyatakan tetap membuka ruang negosiasi lanjutan.
Situasi ini memicu kekhawatiran baru terkait pasokan energi global. Sejumlah negara mulai mengambil langkah antisipatif.
Jepang, misalnya, melepas cadangan minyak strategis sebesar 8,5 juta kiloliter untuk menjaga stabilitas pasokan domestik.