JAKARTA – Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa meskipun gejolak ekonomi global akibat perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran menyebabkan kenaikan harga minyak mentah dunia, ekonomi Indonesia tetap dalam kondisi yang solid dan stabil.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan keyakinan tersebut dengan mengacu pada sejumlah indikator makro ekonomi yang menunjukkan kekuatan perekonomian Indonesia.
Airlangga menjelaskan bahwa salah satu faktor penting yang menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia adalah daya beli masyarakat yang masih terjaga.
Baca Juga: BGN: Penyaluran MBG Terakhir Besok, Dilanjutkan Lagi pada 31 Maret "Kita punya konsumsi domestik yang masih kuat, masih 54% dari PDB, dan Mandiri Spending Index sudah mencapai angka 360,7, itu sangat tinggi," ungkapnya saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (16/3/2026).
Dia juga menambahkan bahwa pasar dan pusat perbelanjaan di Indonesia tetap ramai, menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat masih berjalan dengan baik meskipun ada gejolak ekonomi global. Bahkan, program diskon dan pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) turut meningkatkan daya beli masyarakat.
Dalam penjelasannya, Airlangga juga menegaskan bahwa rasio utang negara Indonesia berada pada level yang aman, yakni 40% dari PDB, yang jauh di bawah batas aman internasional yang sebesar 60%.
"Utang luar negeri kita sekitar 29,9%, sedangkan utang dalam negeri sekitar 10%. Total utang kita hanya 40% dari PDB," ujar Airlangga.
Ia juga menyebutkan bahwa cadangan devisa Indonesia masih mencukupi untuk memenuhi 6 bulan impor, yang menunjukkan ketahanan negara terhadap ketidakpastian ekonomi global.
Airlangga menambahkan bahwa sektor manufaktur Indonesia juga menunjukkan kinerja yang baik.
Indeks manufaktur Indonesia tercatat pada angka 53,8, yang menurutnya merupakan angka tertinggi dalam sejarah.
"Ini sebetulnya all-time high. Artinya, sektor manufaktur optimis dengan berbagai perjanjian yang ditandatangani dan kepercayaan tinggi terhadap kebijakan pemerintah," kata Menko Perekonomian.
Airlangga juga menegaskan peran APBN yang berjalan dengan baik sebagai shock absorber dalam menghadapi dampak ekonomi global.