JAKARTA – Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga meski terjadi gangguan rantai pasok komoditas akibat penutupan Selat Hormuz di tengah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Dalam Konferensi Pers APBN KiTA edisi Maret 2026, Febrio menyatakan pemerintah akan menerapkan strategi belanja negara yang merata sepanjang tahun.
"Kami ingin pertumbuhan ekonominya lebih merata di seluruh kuartal, sehingga belanja negaranya juga kami buat merata," ujar dia, Kamis (12/3/2026).
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat ke Rp16.879 di Tengah Ketegangan AS–Iran Hingga 28 Februari 2026, realisasi belanja negara tercatat sebesar Rp493,8 triliun atau 12,8 persen dari target, naik 41,9 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Penerimaan pajak juga tumbuh 30,4 persen menjadi Rp245,1 triliun, memungkinkan pemerintah mempercepat realisasi belanja untuk menjaga momentum pertumbuhan.
Febrio menargetkan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,5 persen atau lebih, melanjutkan tren kuartal IV 2025 yang sebesar 5,39 persen.
"Momentum pertumbuhan ini diharapkan terus berlanjut sepanjang tahun," katanya.
Selain percepatan belanja, pemerintah juga menebar berbagai stimulus ekonomi menjelang Idul Fitri.
Stimulus mencakup diskon tiket kereta dan angkutan laut 30 persen, penghapusan tarif jasa pelabuhan untuk angkutan penyeberangan, bantuan pangan untuk 35 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM), serta penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) senilai Rp24,7 triliun.
Febrio menekankan, stimulus ini bertujuan mendorong daya beli masyarakat dan pergerakan ekonomi domestik di kuartal I 2026, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia menghadapi gejolak global.*
(mt/dh)