JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka terapresiasi pada perdagangan Kamis pagi (12/3/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik tipis 0,04% atau 7 poin ke level Rp16.879 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya ditutup melemah 23 poin ke Rp16.886 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS juga menguat 0,12% ke 99,35.
Baca Juga: Wali Kota Mahyaruddin Terima Audiensi PKH Bahas Kolaborasi Pengentasan dan Penurunan Angka Kemiskinan di Kota Tanjungbalai Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah hari ini berpotensi melemah di kisaran Rp16.880 hingga Rp16.910 per dolar AS.
"Pasar terguncang akibat gangguan pasokan energi, karena Iran mulai memblokir Selat Hormuz sebagai respons atas serangan AS dan Israel. Teheran menegaskan akan terus menyerang kapal-kapal hingga konflik berakhir," ujarnya, Kamis (12/3/2026).
Selat Hormuz merupakan jalur vital pengiriman minyak dan gas bagi Asia.
Gangguan berkepanjangan diprediksi akan menimbulkan tekanan signifikan terhadap perekonomian negara-negara pengimpor energi.
Meskipun Presiden AS Donald Trump menyatakan perang hampir berakhir, Iran menolak klaim tersebut dan menegaskan bahwa mereka akan menentukan sendiri waktu penghentian permusuhan.
Selain perkembangan geopolitik, pasar juga menyoroti data Consumer Price Index (CPI) AS untuk Februari 2026.
Inflasi CPI diperkirakan tetap stabil di 2,4% YoY, sedangkan CPI inti diprediksi di level 2,5%.
"Angka ini mungkin belum mencerminkan lonjakan harga energi akibat konflik, namun tetap menjadi indikator penting untuk memantau kesehatan ekonomi AS dan dampaknya terhadap pasar global," jelas Ibrahim.
Di sisi domestik, tren pelemahan rupiah dipengaruhi faktor internal.