JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat ke level Rp16.863 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa, 10 Maret 2026.
Posisi ini meningkat 0,51 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.949 per dolar AS.
Penguatan rupiah dipengaruhi oleh sentimen eksternal dan domestik. Secara global, percakapan telepon antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump dinilai membantu meredakan kekhawatiran pasar terkait potensi gangguan pasokan energi.
Baca Juga: Iran Tawarkan Akses Bebas Melintas Selat Hormuz, Syaratnya Usir Diplomat AS dan Israel! "Putin menyampaikan sejumlah proposal yang bertujuan mempercepat penyelesaian konflik dengan Iran," kata pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi.
Meskipun demikian, Iran menegaskan pihaknya tetap menentukan jalannya konflik. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menekankan, Teheran tidak akan mengizinkan ekspor minyak jika serangan AS dan Israel terus berlangsung.
Namun, harga minyak global tetap stabil di tengah opsi yang dipertimbangkan Washington, termasuk pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia dan pelepasan cadangan minyak darurat.
Di sisi domestik, Bank Indonesia mencatat cadangan devisa Indonesia per Februari 2026 sebesar 151,9 miliar dolar AS, menurun dari Januari 2026 yang mencapai 154,6 miliar dolar AS.
Penurunan ini disebabkan intervensi moneter untuk menstabilkan rupiah serta pembayaran utang luar negeri pemerintah. Meski demikian, cadangan devisa masih memadai, setara dengan 6,1 bulan impor dan 5,9 bulan untuk impor plus pembayaran utang luar negeri.
"Cadangan devisa saat ini masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi serta sistem keuangan nasional," kata Ibrahim. Optimisme investor juga terbantu oleh persepsi positif terhadap prospek ekonomi Indonesia dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.
Dengan berbagai faktor ini, rupiah mampu menguat meskipun sentimen global masih bergejolak akibat konflik Timur Tengah.*
(k/dh)