JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah ke level Rp16.949 per dolar pada akhir perdagangan Senin (9/3/2026), turun 24 poin atau sekitar 0,15 persen.
Pelemahan ini dipicu sentimen eksternal berupa lonjakan harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan harga minyak global melonjak hingga USD113,68 per barel, mendekati rekor tertinggi sejak awal perang Rusia-Ukraina pada 2022.
Baca Juga: IHSG Ditutup Melemah 3,27 Persen ke Level 7.337, Semua Sektor Tertekan "Serangan udara Israel dan AS terhadap fasilitas minyak Iran, serta serangan rudal balasan Teheran, menimbulkan kekhawatiran gangguan pasokan minyak global," ujarnya.
Selain itu, pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran turut menimbulkan risiko pasokan bagi sebagian besar Asia.
Di tengah situasi ini, inflasi konsumen di Tiongkok tercatat tumbuh 1,3 persen pada Februari, melampaui perkiraan 0,9 persen, seiring peningkatan pengeluaran selama liburan Tahun Baru Imlek.
Dari sisi domestik, harga minyak yang menembus USD92 per barel jauh melampaui asumsi makro APBN 2026 sebesar USD70 per barel.
Hal ini berpotensi meningkatkan defisit APBN hingga Rp6,8 triliun dan menekan rasio defisit terhadap PDB mendekati 4 persen, melampaui batas aman 3 persen.
Menghadapi situasi ini, pemerintah diminta mengambil langkah strategis: efisiensi anggaran untuk belanja prioritas masyarakat, akselerasi konversi energi dari minyak ke energi terbarukan seperti PLTS, PLTA, dan PLTB, serta stimulus ekonomi melalui deregulasi dan debirokratisasi agar pertumbuhan tetap terjaga.
Berdasarkan analisis, Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.950–Rp17.000 per dolar AS pada perdagangan berikutnya.*
(oz/dh)