JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menembus Rp 17.000 dan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 4% memicu kekhawatiran pasar.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi ekonomi Indonesia jauh dari resesi.
Menurut Purbaya, sentimen negatif dari sejumlah ekonom yang menyebut Indonesia "mendekati resesi" menjadi pemicu utama gejolak pasar.
Baca Juga: Peringatan Nuzulul Quran Digelar di Istana Negara Besok, Dihadiri Presiden Prabowo dan Wapres Gibran "Rupiah Rp 17.000, IHSG anjlok karena sebagian teman-teman ekonom bilang katanya kita sudah mulai resesi, seperti 1998 lagi, ya itu lah, daya beli sudah hancur," ujar Purbaya, Senin (9/3/2026), di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Purbaya menegaskan, ekonomi Indonesia masih dalam fase ekspansi dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
"Jangankan krisis, resesi saja belum, melambatnya saja belum. Kita masih ekspansi, masih akselerasi. Itu yang kita jaga terus dalam beberapa minggu ke depan," katanya.
Menteri Keuangan juga meminta investor saham tidak perlu panik. Menurutnya, pemerintah memiliki pengalaman menghadapi berbagai krisis, termasuk krisis moneter 1998, krisis global 2008-2009, dan gejolak ekonomi 2020 akibat pandemi.
"Teman-teman nggak usah takut. Fondasi ekonomi kita kuat, dan kebijakan pemerintah telah teruji," jelas Purbaya.
Dengan penegasan ini, pemerintah berharap pasar dapat kembali stabil dan kepercayaan investor tetap terjaga, meskipun volatilitas nilai tukar dan IHSG masih tinggi akibat spekulasi resesi.*
(d/dh)