JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Senin pagi (9/3/2026), menembus level yang belum pernah terlihat sejak Krisis Moneter 1998 dan pandemi Covid-19 2020.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di Rp17.001 per dolar AS, melemah 76 poin atau 0,45% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu.
Di sisi lain, indeks dolar AS menguat 0,70% ke level 99,67.
Baca Juga: IHSG Melemah 4,38%, Saham Migas MEDC dan ENRG Justru Menguat Mayoritas mata uang Asia turut mengalami pelemahan, termasuk yen Jepang terdepresiasi 0,58%, won Korea Selatan melemah 0,85%, rupee India turun 0,16%, dan ringgit Malaysia melemah 0,49% terhadap dolar AS.
Kurs rupiah hari ini bahkan melampaui rekor saat pandemi Covid-19 pada Maret 2020 di kisaran Rp16.600–Rp16.700 per dolar AS, serta level intraday Krisis Moneter Juni 1998 yang menyentuh Rp16.800.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif, namun cenderung melemah di rentang Rp16.920–Rp17.010 per dolar AS.
Sepanjang pekan ini, rupiah diprediksi bergerak dalam kisaran Rp16.850–Rp17.010.
Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah dipengaruhi faktor internal maupun eksternal.
Dari sisi domestik, penurunan prospek Indonesia oleh Fitch Ratings dari stabil menjadi negatif memicu kekhawatiran investor.
Salah satu isu utama adalah rasio pajak (tax ratio) yang dalam satu dekade terakhir stagnan di kisaran 9–10% dari PDB, bahkan turun dari 10,08% pada 2024 menjadi 9,31% pada 2025.
Selain itu, tingginya belanja sosial pemerintah, khususnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyerap 1,3% PDB periode 2025–2029, turut menjadi beban fiskal.
Dari sisi eksternal, pasar tetap waspada terhadap eskalasi konflik Timur Tengah yang memasuki hari ketujuh.