JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 turun menjadi US$ 151,9 miliar atau sekitar Rp 2.570 triliun (kurs Rp 16.924 per dolar).
Angka ini lebih rendah dibandingkan posisi akhir Januari 2026 yang tercatat US$ 154,6 miliar atau sekitar Rp 2.616 triliun.
Penurunan cadangan devisa dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain penerimaan pajak dan jasa, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta pembayaran utang luar negeri.
Baca Juga: WABUP ASAHAN BUKA OPERASI PASAR REGULER DAN KHUSUS JELANG IDUL FITRI 1447 H Selain itu, kebijakan stabilisasi nilai tukar di tengah ketidakpastian pasar global turut memengaruhi posisi cadangan devisa.
Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan, posisi cadangan devisa pada akhir Februari setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Angka ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
"Cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujar Ramdan Denny Prakoso, Jumat (6/3/2026).
Ke depan, BI meyakini posisi cadangan devisa yang memadai akan ditopang oleh aliran masuk modal asing seiring persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.
"Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tambahnya.*
(d/dh)