JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan sejumlah strategi agar ekonomi Indonesia tetap bertahan di tengah gejolak akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Menurut Purbaya, meski ketegangan global menimbulkan tekanan, dampaknya masih bisa dikendalikan.
"Selama kita bisa jaga domestic demand yang 90% kontribusinya ke ekonomi, kita masih bisa survive," ujar Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026) malam. Ia menekankan bahwa kekuatan pasar domestik menjadi penopang utama ekonomi nasional.
Baca Juga: 2 Kapal Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, Bahlil Pastikan Harga BBM Tidak Naik Purbaya juga menyoroti dampak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Gejolak di Timur Tengah dapat membuat harga impor minyak melonjak, yang berpotensi menekan defisit.
Untuk itu, pemerintah akan mengoptimalkan penerimaan pajak serta bea dan cukai.
"Kalau impor makin parah, harganya mahal, mungkin akan menekan defisit. Kita pastikan tax collection dan pengumpulan cukai tidak bocor, sehingga bisa kurangi tekanan ke defisit," jelasnya.
Data awal tahun menunjukkan perbaikan signifikan pada penerimaan pajak.
Pada Januari 2026, penerimaan pajak tumbuh 30%, menunjukkan penguatan perilaku ekonomi masyarakat dan efektivitas pengawasan bea cukai.
"Tax collection kita membaik, Januari tumbuhnya 30%. Angka ini sangat signifikan, artinya ada perbaikan nyata di ekonomi," tambah Purbaya.
Langkah-langkah ini diharapkan menjaga stabilitas ekonomi domestik, sekaligus menyiapkan Indonesia menghadapi ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah.*
(d/dh)