JAKARTA — Menteri Pertanian Amran Sulaiman memastikan pasokan pangan nasional tetap aman meski Selat Hormuz ditutup akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Amran mengatakan Indonesia dalam kondisi surplus sejumlah komoditas strategis, terutama beras.
Ia meminta publik tidak terjebak pada kekhawatiran berlebihan atas dampak konflik global terhadap ketahanan pangan nasional.
Baca Juga: Kondisi WNI di Qatar Terdampak Konflik Iran-AS-Israel, Wamenham Ungkap Situasi Terkini "Kami optimistis. Jangan berandai-andai. Kita sudah ekspor telur kemasan dan minggu depan ekspor beras," ujar Amran di Kantor Kementerian Pertanian, Selasa, 3 Maret 2026.
Menurut dia, produksi beras nasional tahun ini diperkirakan mencapai surplus 3,7 juta ton.
Pemerintah bahkan menargetkan stok beras bisa menyentuh 5 juta ton pada April mendatang tanpa impor.
Meski demikian, Amran mengakui ketegangan geopolitik berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas, terutama jika jalur perdagangan internasional terganggu.
Penutupan Selat Hormuz dinilai dapat memicu lonjakan biaya logistik dan bahan penunjang produksi, termasuk pupuk.
Data menunjukkan impor pupuk Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cenderung meningkat.
Ketergantungan pasokan dari negara-negara yang bersinggungan dengan eskalasi konflik Timur Tengah menjadi salah satu faktor risiko terhadap stabilitas harga dan produksi pangan domestik.
"Dengan kondisi geopolitik yang tidak menentu, hampir pasti ada potensi kenaikan harga. Tapi untuk protein dan pangan pokok, kita cukup. Indonesia aman," kata Amran.
Pemerintah menyatakan terus memantau perkembangan situasi global guna mengantisipasi dampak lanjutan terhadap inflasi dan distribusi pangan nasional.*