JAKARTA– Harga emas dunia kembali melonjak signifikan menyusul eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) mendorong investor global mengalihkan modal ke aset safe haven.
Berdasarkan data Trading View per Minggu (1/3), harga emas spot menembus level 5.278 dolar AS per ons, meski sempat mencatat rekor tertinggi mendekati 5.608 dolar AS per ons pada Januari 2026.
Baca Juga: 58.873 Jemaah Umrah Indonesia Tertahan, Pemerintah Maksimalkan Bantuan di Arab Saudi Para analis memperkirakan harga emas berpotensi menembus rekor baru jika konflik di kawasan terus meningkat.
"Kenaikan harga emas dipicu oleh peningkatan premi risiko akibat ketegangan geopolitik. Pasar mempersiapkan strategi penghindaran risiko klasik, termasuk investasi pada emas dan logam mulia," ujar Yang Delong, Kepala Ekonom First Seafront Fund, kepada Global Times.
Minyak Mentah Menguat
Tak hanya emas, harga minyak mentah internasional juga mencatat kenaikan signifikan. Brent menembus level tertinggi enam bulan terakhir.
Kekhawatiran pasar muncul akibat potensi gangguan pasokan minyak global, mengingat lebih dari 14 juta barel per hari biasanya melintasi Selat Hormuz. Apabila Iran menyerang fasilitas minyak negara Teluk lain, harga minyak dunia berpotensi menyentuh 130 dolar AS per barel.
"Penutupan jalur navigasi di Selat Hormuz serta penghentian sementara pengiriman minyak oleh beberapa perusahaan besar memperkuat sentimen risiko," tulis laporan Reuters, Sabtu (28/2).
Sektor Saham Terdampak
Selain emas dan minyak, analis Jiangsu Su Merchants Bank, Fu Yifu, memprediksi pasar saham di sektor energi, logam mulia, pertahanan, dan industri terkait akan mencatat kenaikan jangka pendek.
Lonjakan permintaan terhadap logam mulia dan energi diyakini menjadi respons pasar terhadap ketidakpastian geopolitik.