JAKARTA – Harga minyak dunia melonjak tajam lebih dari 2 persen menyusul serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, Sabtu (28/2/2026).
Lonjakan ini menempatkan harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) di level tertinggi sejak pertengahan tahun lalu.
Mengutip laporan CNA, harga minyak Brent naik 2,45 persen atau 1,73 dolar AS menjadi 72,48 dolar per barel. Sementara WTI Amerika Serikat melonjak 2,78 persen atau bertambah 1,81 dolar AS menjadi 67,02 dolar per barel.
Baca Juga: Timur Tengah Lumpuh, Delapan Negara Hentikan Penerbangan Akibat Konflik Iran-AS-Israel Lonjakan ini menempatkan kedua acuan harga minyak di jalur kenaikan mingguan lebih dari 1 persen.
Kenaikan harga minyak tidak lepas dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan ketidakpuasannya terhadap sikap Iran, yang menolak menghentikan total pengayaan uranium meski telah dikepung militer AS.
Trump menegaskan bahwa pengayaan uranium, bahkan untuk tujuan sipil, tidak dapat diterima.
"Saya mengatakan tidak ada pengayaan. Bukan 20 persen, 30 persen. Mereka menginginkannya untuk tujuan sipil. Saya pikir itu tidak beradab," ujar Trump kepada wartawan.
Pernyataan keras tersebut memperkuat sentimen negatif di pasar global dan memicu kekhawatiran akan eskalasi militer lebih lanjut di kawasan.
Sementara itu, Iran menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan untuk kebutuhan energi sipil dan menolak tuntutan penghentian total sebagai syarat yang berlebihan. Ketegangan ini membuat pasar energi dunia sangat sensitif terhadap setiap perkembangan konflik.
Para analis memperingatkan bahwa jika ketegangan berlanjut, harga minyak berpotensi terus meningkat, yang dapat berdampak pada inflasi global dan stabilitas ekonomi di berbagai negara.*
(tm/dh)