JAKARTA — Panel surya asal Indonesia terancam menghadapi tarif impor hingga 143% di Amerika Serikat (AS) menyusul penyelidikan antisubsidi yang digelar USDOC.
Menanggapi hal ini, Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan pemerintah siap mengawal kepentingan industri nasional hingga keputusan final diumumkan.
"Proses ini sepenuhnya berbasis data dan fakta. Pemerintah Indonesia bersikap kooperatif dan transparan agar seluruh tahapan penyelidikan berjalan sesuai ketentuan. Kami akan terus mengawal kepentingan industri nasional hingga keputusan final diumumkan," ujar Budi dalam keterangan resmi, Jumat (27/2/2026).
Baca Juga: Tangis Seorang Ibu: Putranya Ditahan di Kamboja, Mohon Bantuan Pemerintah Berdasarkan pengumuman USDOC pada Selasa (24/2), pengenaan Bea Masuk Imbalan Sementara (BMIS) berlaku untuk produk crystalline silicone photovoltaic cells, baik yang sudah dirakit menjadi modul maupun belum.
Tarif individual bagi produsen Indonesia berada di kisaran 85,99%–143,30%, dengan tarif umum 104,38%.
Meski demikian, tarif sementara Indonesia relatif moderat bila dibandingkan negara ASEAN lainnya. Malaysia dikenakan 14–168%, Vietnam 68–542%, Thailand 99–263%, dan Kamboja mencapai lebih dari 3.400%.
Sejak kasus ini bergulir pada Agustus 2025, pemerintah telah merespons dengan menyerahkan kuesioner, data pendukung, serta klarifikasi teknis secara lengkap dan tepat waktu.
Langkah ini penting untuk menghindari penerapan metode Adverse Facts Available (AFA) yang dapat meningkatkan tarif jika dianggap tidak kooperatif.
"Dalam mekanisme trade remedies di bawah kerangka WTO, kelengkapan dan akurasi data menjadi faktor krusial," jelas Budi.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Tommy Andana menambahkan, koordinasi intensif terus dilakukan dengan pelaku usaha, termasuk penguatan konsolidasi data dan pendampingan teknis menjelang verifikasi lapangan oleh otoritas AS yang dijadwalkan April 2026.
Pemerintah menegaskan fokusnya adalah memastikan industri panel surya nasional tetap terlindungi dan kompetitif di pasar global meski menghadapi tekanan tarif impor.*
(d/dh)