JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Kamis (26/2/2026).
Rupiah menguat 41 poin atau sekitar 0,24 persen ke level Rp16.759 per dolar AS, menandai penguatan di tengah sentimen global dan domestik.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan rupiah dipicu oleh perhatian pasar terhadap perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Baca Juga: Rusia Ragukan Board of Peace, Sebut Mandat Tidak Sinkron dengan DK PBB Utusan khusus AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dijadwalkan bertemu pejabat Iran di Jenewa untuk membahas program nuklir dan rudal balistik Teheran.
"Jika kedua pihak berkomitmen untuk keterlibatan konstruktif, peluang resolusi diplomatik masih terbuka," ujar Ibrahim.
Selain itu, keputusan Mahkamah Agung AS yang mengubah kerangka hukum terkait kebijakan tarif global memberikan dampak positif bagi perdagangan bilateral Indonesia-AS.
Pemerintah Indonesia menegaskan, perjanjian dagang tetap berjalan sesuai mekanisme yang telah disepakati, dengan tarif sementara 10 persen selama 150 hari.
Di sisi domestik, pemerintah, di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, tengah mengkaji seluruh potensi risiko dari perubahan kebijakan tarif AS, namun menilai skenario baru lebih menguntungkan dibanding sebelumnya.
Meski penguatan hari ini cukup signifikan, Ibrahim memperingatkan rupiah masih berpotensi fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dengan rentang perkiraan Rp16.750–Rp16.780 per dolar AS, mengingat tekanan inflasi global dan kebijakan suku bunga Federal Reserve (Fed) yang belum pasti.*
(in/dh)