JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah di pasar spot pada Rabu (25/2/2026).
Rupiah dibuka di level Rp16.844 per US$, turun 0,1% dibandingkan posisi perdagangan kemarin, seiring ketidakpastian global dan tekanan domestik.
Pergerakan rupiah terjadi saat indeks dolar AS juga turun tipis 0,03% ke 97,81, menjelang pidato kenegaraan (State of the Union) Presiden AS Donald Trump.
Baca Juga: Setelah 4 Hari Naik, Harga Emas Antam Melemah Rp 45 Ribu/Gram Hari Ini Pidato yang akan disampaikan malam ini waktu AS diperkirakan membawa dampak pada sentimen pasar, terutama terkait rencana Trump melarang investor institusional membeli rumah tapak dan permintaan pengembalian pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri.
"Terpelesetnya dolar AS di tengah penantian pidato kenegaraan Trump membawa mata uang Asia menguat. Namun rupiah masih tertekan oleh faktor domestik," kata analis pasar, Rabu (25/2/2026).
Mata uang Asia lainnya menunjukkan penguatan tipis, antara lain dolar Taiwan +0,35%, peso Filipina +0,08%, yuan offshore China +0,06%, yen Jepang +0,04%, dan dolar Singapura +0,03%.
Sementara baht Thailand melemah 0,13%, diikuti rupiah -0,1%, dan ringgit Malaysia -0,03%.
Meski cadangan devisa Indonesia tercatat aman di US$154,6 miliar, kondisi domestik seperti defisit APBN dan tekanan pada sektor riil membatasi penguatan rupiah.
Investor juga cenderung menunggu kepastian kebijakan eksternal dan data ekonomi terbaru sebelum mengambil keputusan.
Para pelaku pasar diharapkan tetap berhati-hati, mengingat volatilitas rupiah masih dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal.*
(bb/ad)