JAKARTA - Nilai tukar rupiah membuka perdagangan hari ini, Senin (23/2/2026), dengan penguatan terbatas di tengah pelemahan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan global.
Pada pembukaan pasar spot, rupiah naik 0,15% ke Rp16.847/US$, seiring menyusutnya indeks dolar AS sebesar 0,43% ke 97,37.
Namun, penguatan rupiah tertahan seiring ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat.
Baca Juga: IHSG Menguat 1,17%, Saham Big Caps dan Emiten Emas Kompak Naik Hingga pagi ini, rupiah hanya menguat 0,11% ke Rp16.855/US$, masih berada di zona hijau bersama mayoritas mata uang Asia.
Yen Jepang memimpin apresiasi dengan kenaikan 0,54%, diikuti baht Thailand 0,49% dan ringgit Malaysia 0,44%.
Awal pekan ini, investor global mulai menilai risiko lebih tinggi terhadap aset AS.
Setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif resiprokal, Presiden Donald Trump memberlakukan tarif global baru sebesar 10-15%, memicu potensi volatilitas pasar.
Tekanan juga datang dari imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang naik tipis menjadi 4,08%, serta data pertumbuhan dan inflasi AS yang bervariasi.
"Ketidakpastian tarif global dan potensi defisit anggaran menekan aktivitas bisnis dan investasi, sekaligus menurunkan daya tarik dolar AS," kata analis pasar valuta asing.
Dari sisi domestik, penguatan rupiah masih terbatas.
Laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Bank Indonesia menunjukkan bahwa surplus US$7 miliar pada kuartal IV-2025 lebih banyak ditopang aliran modal dan transaksi finansial, bukan sektor riil.
Transaksi berjalan kembali defisit US$2,5 miliar, seiring meningkatnya pembayaran dividen ke investor asing.