WASHINGTON DC – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan kesiapan Indonesia menghadapi dinamika terbaru terkait kebijakan tarif dagang Amerika Serikat (AS) pasca putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian kebijakan tarif global Presiden Donald Trump.
"Kita siap untuk menghadapi semua kemungkinan, kita hormati politik dalam negeri Amerika Serikat, kita lihat perkembangannya," ujar Prabowo kepada wartawan di Washington DC, Sabtu (21/2).
Meskipun ada perubahan kebijakan, Prabowo menilai kesepakatan tarif dagang antara Indonesia dan AS relatif menguntungkan kedua negara setelah proses negosiasi panjang.
Baca Juga: Royal Botanica Park Deli Serdang Raih Sertifikat Greenship Gold, Jadi Role Model Hunian Hijau Sumut "Intinya kita mungkin paling lama ya berunding soal tarif itu, perdagangan, tapi baguslah hasilnya," katanya.
Ia menambahkan, investor AS menyambut positif pertumbuhan ekonomi dan iklim investasi di Indonesia.
"Mereka positif terhadap ekonomi kita," ujar Prabowo.
Pada Kamis (19/2), pemerintah Indonesia dan AS resmi menandatangani Agreement on Reciprocal Tariff (ART) di Washington DC.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, kesepakatan ini membuka peluang ekspor utama Indonesia dengan tarif nol persen.
"Dalam ART ini ada 1.819 pos tarif, baik itu pertanian maupun industri, antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik, termasuk semikonduktor dan komponen pesawat terbang, tarifnya adalah nol persen," ujar Airlangga.
Produk tekstil dan apparel Indonesia juga mendapat tarif nol persen melalui mekanisme Tariff Rate Quota (TRQ).
Kesepakatan ini merupakan hasil negosiasi intensif sejak pengumuman kebijakan tarif resiprokal AS pada April 2025, yang semula menetapkan tarif 32 persen bagi Indonesia.
Melalui perundingan, Indonesia berhasil mengamankan tarif 0–10 persen untuk beberapa produk unggulan.