JAKARTA– Upaya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menempatkan Rp 200 triliun Saldo Anggaran Lebih (SAL) di bank-bank BUMN pada 2025 belum membuahkan hasil signifikan bagi pertumbuhan kredit perbankan domestik.
Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu, menyatakan pertumbuhan kredit masih berada di angka 7,9%, di bawah target 10%, meski likuiditas tambahan telah tersedia.
"Kebijakan penempatan dana SAL belum diterjemahkan menjadi peningkatan kredit. Ini apakah masalah waktu? Pertumbuhan kredit masih di bawah 10%, jadi dampaknya belum kelihatan," ujar Mari dalam acara OJK Institute secara virtual, Kamis (19/2/2026).
Baca Juga: Solusi Dua Negara Jadi Kunci, Prabowo Dorong Perdamaian Jangka Panjang Palestina Pelonggaran moneter oleh Bank Indonesia, termasuk penurunan BI Rate dari 6% ke 4,75% sepanjang 2025, juga belum mampu mendorong permintaan kredit secara signifikan.
Tingginya suku bunga kredit dan lemahnya daya beli masyarakat disebut menjadi faktor utama. Selain itu, defisit neraca pembayaran menekan nilai tukar rupiah dan menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha.
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Hery Gunardi, menambahkan lambatnya pertumbuhan kredit lebih terkait kondisi struktural ekonomi domestik, terutama pelemahan di sektor manufaktur, pertanian, dan perdagangan—tiga penyumbang besar terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja.
"Moderasi kredit saat ini bukan semata faktor likuiditas. Meskipun sudah diguyur Rp 200 triliun, realisasi kredit tertahan karena struktur sektoral ekonomi dan sikap wait and see pelaku usaha," kata Hery.
Para pengamat menilai, tambahan likuiditas saja tidak cukup. Kepercayaan pelaku usaha dan prospek ekonomi yang jelas menjadi kunci agar kredit perbankan kembali tumbuh dan mendorong ekspansi di sektor riil dan UMKM.*
(d/dh)