WASHINGTON DC – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tidak pernah mengalami gagal bayar utang alias default.
Pernyataan ini disampaikannya di hadapan para pengusaha Amerika Serikat dalam Gala Iftar Business Summit yang diselenggarakan di US Chamber of Commerce, Rabu (18/2/2026) waktu setempat.
"Kami telah mengelola ekonomi kami dengan bijaksana selama bertahun-tahun. Kami tidak pernah gagal bayar, sekalipun dalam sejarah kami. Pemerintahan berikutnya selalu menghormati utang dari pemerintahan sebelumnya, meskipun mereka mungkin merupakan lawan politik yang keras satu sama lain. Tradisi masyarakat kami adalah menghormati kewajiban," ujar Prabowo.
Baca Juga: Prabowo Saksikan 11 MoU RI-AS Senilai USD 38,4 Miliar, Sektor Strategis Terlibat Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo menekankan pentingnya kesinambungan kebijakan fiskal antar pemerintahan di Indonesia, sebagai bentuk jaminan keamanan investasi bagi investor asing.
"Tradisi kami menghormati utang adalah bukti kredibilitas dan komitmen Indonesia terhadap pasar internasional," tambahnya.
Menurut data Bank Indonesia, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan IV-2025 mencapai US$ 431,7 miliar atau sekitar Rp 7.298 triliun (kurs Rp 16.906). Angka ini meningkat dari posisi triwulan III-2025 sebesar US$ 427,6 miliar.
Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada pada level 29,9%, dengan sebagian besar merupakan ULN jangka panjang sebesar 85,7%.
Secara rinci, ULN pemerintah tercatat US$ 214,3 miliar, meningkat dari US$ 210,1 miliar pada triwulan sebelumnya, yang dipengaruhi oleh aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional.
Pernyataan Prabowo ini diharapkan menjadi sinyal positif bagi investor, sekaligus menegaskan bahwa Indonesia tetap konsisten dalam menjaga reputasi fiskal di mata dunia.*
(d/dh)