PADANGSIDIMPUAN – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali terjadi di Kota Padangsidimpuan.
Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dilaporkan mengalami gangguan distribusi, sehingga warga terpaksa mengantre berjam-jam untuk mendapatkan BBM.
Berdasarkan keterangan salah seorang pengawas SPBU, kelangkaan ini bukan disebabkan oleh isu putusnya Jembatan Garoga seperti yang beredar, melainkan karena kapal tanker pengangkut BBM terlambat bersandar di pelabuhan atau terminal bahan bakar.
Baca Juga: Harga Pertamax dan Pertamax Turbo Turun Mulai 1 Februari 2026, Simak Daftar Lengkap BBM Nonsubsidi di Seluruh Indonesia "Berdasarkan informasi dari lapangan dan sopir SPBU, kapal terlambat bersandar. Stok BBM sebenarnya masih aman, hanya pengirimannya yang tertunda," ujar pengawas tersebut kepada BITVONLINE, Minggu (1/2/2026).
Menurut pengawas, selama beberapa hari terakhir hanya tersedia BBM jenis biosolar dan pertalite masing-masing 8 kiloliter, sementara pengiriman Pertamax belum masuk sejak tiga hari terakhir.
Dampak dari keterlambatan distribusi ini juga mulai dirasakan masyarakat secara langsung.
Di sejumlah SPBU, antrean panjang terlihat sejak pagi hari, dan sebagian warga terpaksa membeli BBM dari pengecer dengan harga lebih tinggi.
BBM Pertalite dijual antara Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter, sementara Pertamax dijual Rp26.000 per liter.
Seorang warga mempertanyakan asal-usul BBM yang dijual pengecer dengan harga jauh di atas harga resmi.
Ia mendesak pemerintah Kota Padangsidimpuan dan aparat penegak hukum menelusuri distribusi BBM ilegal yang memicu lonjakan harga.
Kelangkaan BBM akibat keterlambatan kapal tanker ini menjadi pengingat pentingnya koordinasi distribusi energi, terutama menghadapi kondisi cuaca buruk maupun kendala operasional yang kerap terjadi di pelabuhan.*
(dh)