BANDA ACEH – Generasi muda perlu mengubah paradigma terhadap wakaf.
Transformasi wakaf dari instrumen tradisional menjadi bagian dari gaya hidup modern dianggap krusial untuk mendukung pengembangan ekonomi umat.
Hal itu diungkapkan pegiat filantropi Islam, Sayed Muhammad Husen, di Banda Aceh, Senin (26/1/2026).
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp16.782, Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Terangkat Menurut Sayed, selama ini wakaf sering dicitrakan kaku dan tradisional, seperti sebidang tanah kuburan atau masjid, dengan prosedur fikih dan legalitas yang rumit.
Persepsi ini memicu jarak psikologis antara kaum Milenial dan Gen Z dengan gerakan wakaf.
"Padahal, masa depan ekonomi umat justru berada di tangan mereka. Saat ini literasi wakaf di kalangan kaum muda masih rendah karena minimnya konten kreatif yang menjembatani nilai-nilai keadilan dan kemajuan wakaf dengan gaya hidup modern," ujar Sayed.
Sayed menekankan, pendekatan humanis dan inspiratif lebih efektif untuk menarik minat generasi muda dibanding bahasa fikih dan hukum yang berat.
Teknik storytelling bisa menunjukkan dampak nyata wakaf, mulai dari pendidikan anak yatim, pemberdayaan ekonomi, hingga pelestarian lingkungan.
"Kaum muda ingin melihat bukti nyata. Wakaf perlu dikemas dalam cerita yang menyentuh dan relevan dengan kehidupan sehari-hari," tambahnya.
Keterlibatan kreator konten dan jurnalis menjadi strategi penting agar wakaf bisa masuk arus utama (mainstream).
Influencer dapat memperlihatkan bahwa berwakaf semudah membeli kopi kekinian, sementara jurnalis mampu menyorot keberhasilan wakaf produktif yang menciptakan lapangan kerja.
Sayed menegaskan, tujuan akhir gerakan ini adalah menjadikan wakaf bagian dari identitas sosial generasi muda.