MEDAN — Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mulai menyiapkan langkah pengendalian harga pangan menjelang bulan Ramadan 2026.
Ia menilai stabilitas harga sangat bergantung pada dua faktor utama, yakni kelancaran distribusi dan ketersediaan stok, terutama di tengah kondisi pascabencana di sejumlah wilayah Sumatera Utara.
"Yang pasti ada sedikit perbedaan penanganan karena ada bencana, terutama terkait distribusi dan ketersediaan barang," kata Bobby saat ditemui di Kantor Gubernur Sumatera Utara, Rabu, 21 Januari 2026.
Baca Juga: Kerusakan Infrastruktur Pascabencana di Sumut Capai Rp1,146 Triliun, Pemprov Genjot Pemulihan Bobby mengatakan, jika distribusi dan stok dapat dikelola dengan baik, pemerintah daerah optimistis lonjakan harga pangan dapat ditekan.
Menurut dia, tantangan pengendalian harga menjelang Ramadan selalu muncul akibat meningkatnya permintaan masyarakat.
"Kalau dua poin ini ditangani dengan baik, kami rasa harga-harga bisa distabilkan," ujarnya.
Ia mengakui, setiap memasuki Ramadan, permintaan bahan pangan cenderung meningkat dibandingkan bulan-bulan biasa.
Kondisi tersebut, kata Bobby, perlu diantisipasi sejak dini agar tidak berujung pada gejolak harga yang memberatkan masyarakat.
"Kalaupun ada kenaikan sedikit karena permintaan meningkat, itu hal yang biasa. Tapi kuncinya tetap di stok dan distribusi," katanya.
Selain memastikan ketersediaan pasokan, Bobby memastikan program pasar murah tetap menjadi salah satu instrumen pemerintah daerah untuk menjaga daya beli masyarakat.
Program tersebut akan kembali digelar secara berkelanjutan di berbagai daerah di Sumatera Utara.
"Pasar-pasar murah tetap kita lakukan seperti tahun-tahun sebelumnya," ujarnya.