JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim mengetahui penyebab utama pelemahan nilai tukar rupiah dan menyebut kondisi tersebut sebenarnya bisa dibalikkan dalam waktu singkat.
Namun, ia menegaskan bahwa upaya stabilisasi rupiah bukan merupakan kewenangan Kementerian Keuangan.
"Saya tahu betul alasannya kenapa rupiah melemah dan memperbaikinya dua hari, semalam dua malam selesai itu. Tapi saya bukan bank sentral," kata Purbaya di kawasan Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa, 20 Januari 2026.
Baca Juga: Denmark Ingatkan Trump: Invasi Greenland Berarti Perang! Dalam beberapa pekan terakhir, rupiah terus berada di bawah tekanan dolar Amerika Serikat.
Pada perdagangan Selasa, rupiah hampir menyentuh level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Berdasarkan pantauan pasar, rupiah ditutup di level Rp16.956 per dolar AS, melemah tipis dibandingkan penutupan sebelumnya.
Sementara itu, kurs referensi Jisdor Bank Indonesia menempatkan rupiah di posisi Rp16.981 per dolar AS.
Purbaya menolak menjelaskan lebih jauh faktor penyebab pelemahan rupiah.
Ia menyebut otoritas moneter sepenuhnya berada di tangan Bank Indonesia.
"Tanya ke bank sentral. Kalau saya jelaskan, nanti ribut lagi di luar," ujarnya.
Ia juga mengaku heran karena tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah derasnya aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik.
Menurut dia, secara teori, masuknya dana asing seharusnya memberikan dukungan terhadap nilai tukar.