JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang hampir menyentuh Rp17.000 per dolar AS tidak akan menimbulkan tekanan signifikan bagi perekonomian nasional, termasuk para pelaku impor.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah tercatat berada di level Rp16.975 per dolar AS, melemah 0,24 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Meski demikian, Purbaya menegaskan volatilitas saat ini masih tergolong wajar dan dampaknya terhadap ekonomi relatif minimum.
Baca Juga: Gubernur Aceh Percepat Impor Ternak, Pastikan Stok Daging Aman Jelang Ramadhan "Walaupun melemah, kalau dilihat secara persentase masih kecil dibanding sebelumnya. Seharusnya sistem ekonomi sudah terbiasa. Dampaknya ke ekonomi saya kira akan minimum," ujar Purbaya saat ditemui di kawasan Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Secara year to date (YtD), pelemahan rupiah hanya berada di kisaran 2–3 persen.
Purbaya meyakini kondisi ini masih dapat diantisipasi oleh pelaku usaha, terutama importir yang sebagian besar melakukan transaksi dalam dolar AS, meski penjualan dilakukan dalam rupiah.
"Kalau year to date sekitar 2–3 persen. Kalau Anda importir, kenaikan segitu masih bisa dikendalikan. Saya pikir masih bisa," tegasnya.
Menkeu Purbaya optimistis rupiah akan kembali menguat dalam waktu dekat.
Keyakinan ini didasari fundamental ekonomi Indonesia yang semakin solid, seiring target pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat.
"Fondasi ekonomi kita terus membaik, sementara nilai tukar agak melemah. Market melihat ini sebagai peluang. Kepercayaan masih kuat, dan investor bisa mendapatkan capital gain serta forex gain," pungkasnya.*
(mi/ad)