JAKARTA – Harga emas diprediksi terus menanjak hingga Rp 2,82 juta per gram akibat meningkatnya ketegangan global.
Perang dagang antara Uni Eropa dan China, ketegangan di Timur Tengah, serta aksi borong logam mulia oleh bank sentral beberapa negara menjadi faktor utama kenaikan harga emas.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa harga emas dunia kemarin ditutup di level US$ 4.595 per troy ons, sementara harga logam mulia di Indonesia berada di Rp 2,68 juta per gram.
Baca Juga: FYP TikTok dan Explore Instagram Terus Dipenuhi Gosip Artis dan Drama China? Begini Cara Reset Algoritma "Jika harga emas menembus resistance kedua, logam mulia bisa menyentuh Rp 2.820.000 per gram," kata Ibrahim, Minggu, 18 Januari 2026.
Prediksi harga emas mengikuti dua skenario.
Jika terjadi kenaikan, resistance pertama diperkirakan berada di US$ 4.655 per troy ons (setara Rp 2,7 juta per gram), dan resistance kedua di US$ 4.706 per troy ons (Rp 2,82 juta per gram).
Sebaliknya, jika harga emas dunia menurun, resisten pertama di US$ 4.553 per troy ons dan resisten kedua di US$ 4.489 per troy ons.
Kenaikan harga emas juga terdorong oleh aksi borong bank sentral global, termasuk China, India, Amerika Latin, dan negara-negara ASEAN, yang menilai kondisi ekonomi dunia semakin tidak pasti.
Faktor pelemahan rupiah turut mendorong harga logam mulia lokal ikut naik.
Selain itu, konflik geopolitik di Iran, ketegangan politik internal Amerika Serikat, serta rencana Presiden AS Donald Trump terkait Greenland menambah ketidakpastian pasar.
"Ketidakpastian global membuat investor dan bank sentral berlomba-lomba mengamankan logam mulia sebagai aset aman," ujar Ibrahim.
Dengan perkembangan ini, masyarakat disarankan memantau harga emas dan mengikuti tren pasar global agar strategi investasi tetap optimal.*