JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan mendekati atau menembus level Rp 17.000 per dollar pada perdagangan pekan depan.
Prediksi ini disampaikan oleh pengamat ekonomi dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, yang menilai sentimen global dan domestik menjadi faktor utama pergerakan rupiah.
"Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 16.840 hingga Rp 17.000 per dollar AS," kata Ibrahim, dikutip Sabtu (17/1/2026).
Baca Juga: Naik Semua! Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri 24 Hari Ini Dari sisi global, tekanan datang dari dinamika politik AS.
Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, dipanggil ke kejaksaan agung, meski Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak berniat memecatnya.
Kondisi ini memunculkan ketidakpastian terhadap independensi kebijakan moneter AS, sehingga mendorong penguatan dollar.
Selain itu, perkembangan geopolitik dunia seperti konflik Rusia-Ukraina yang masih memanas, potensi invasi AS ke Iran, hingga sengketa penguasaan wilayah Greenland antara AS dan Denmark juga memengaruhi pergerakan mata uang global.
Di dalam negeri, pernyataan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, terkait penempatan dana saldo anggaran lebih (SAL) Rp 276 triliun yang dinilai kurang berdampak terhadap ekonomi turut memberikan sentimen negatif.
"Hal ini menunjukkan adanya sinyal kurangnya koordinasi kebijakan moneter antara Kemenkeu dan Bank Indonesia," ujar Ibrahim.
Pada perdagangan Kamis (15/1/2026), rupiah ditutup melemah 31 poin atau 0,18 persen ke level Rp 16.896 per dollar AS.
Pelemahan ini juga tercermin di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang tercatat Rp 16.880 per dollar AS.*
(k/dh)