JAKARTA – Rupiah kembali melemah di pasar mancanegara pada Jumat pagi (16/1/2026), meski pasar domestik tutup memperingati Isra Mi'raj.
Berdasarkan data Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah tercatat ambles 0,16% ke level Rp16.930/US$.
Pada perdagangan kemarin, rupiah NDF-1M ditutup melemah 0,17% di posisi Rp16.903/US$ dan pagi ini dibuka di level serupa.
Baca Juga: Menteri Investasi Pastikan Pelemahan Rupiah Tak Ganggu Investasi di Indonesia Tren pelemahan ini memperkuat sinyal bearish rupiah jangka menengah.
Sementara itu, pergerakan mata uang Asia cenderung beragam. Peso Filipina menguat 0,09%, yen Jepang 0,08%, dan dolar Singapura 0,02%.
Di sisi lain, won Korea Selatan melemah 0,28%, ringgit Malaysia 0,09%, baht Thailand 0,09%, dan offshore renminbi China turun tipis 0,01%.
Pelemahan rupiah tidak terlepas dari tekanan eksternal.
Perang dagang yang diumumkan Presiden AS Donald Trump terhadap Iran serta kriminalisasi gubernur bank sentral AS mendorong dolar AS menguat 0,05% ke level 99,372.
Dari sisi domestik, defisit fiskal Indonesia yang mencapai 2,92% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025 terus menjadi perhatian pelaku pasar.
Beberapa ekonom memprediksi defisit akan melebar ke level 3–3,5% PDB pada tahun ini.
Secara teknikal, analis memperkirakan rupiah berpotensi melemah lebih lanjut hingga Rp16.950/US$, dengan support kuat di sekitar Rp17.000/US$.
Apabila terjadi penguatan, resistance terdekat berada di Rp16.840/US$, dengan kisaran antara Rp16.780–16.800/US$.