JAKARTA — Kementerian Perindustrian mulai menjalankan program pemulihan bagi ribuan industri kecil yang terdampak bencana alam di wilayah Sumatera dan Aceh.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan program tersebut menjadi agenda utama rapat perdana kementeriannya pada awal 2026.
Agus menyebut bencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Aceh pada akhir 2025 berdampak signifikan terhadap aktivitas industri, terutama sektor industri kecil dan menengah (IKM).
Baca Juga: Bupati Aceh Utara Minta Data Kerusakan Banjir Masuk 4 Januari, Siap Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), Sumatera Utara memiliki lebih dari 3.500 industri kecil, Sumatera Barat sekitar 3.400 industri kecil, sementara Aceh mencatat hampir 2.000 industri kecil yang beroperasi sebelum bencana.
"Dari laporan hingga 30 Desember 2025, dampak terbesar terjadi di Aceh dengan 1.647 industri kecil terdampak, disusul Sumatera Barat sebanyak 367 industri dan Sumatera Utara 52 industri," kata Agus, Sabtu, 3 Januari 2026.
Ia menjelaskan dampak bencana terhadap sektor industri tidak hanya disebabkan oleh kerusakan fasilitas produksi, tetapi juga gangguan rantai pasok dan logistik.
Terputusnya akses jalan dan jembatan, terganggunya distribusi bahan bakar, serta pasokan listrik dan air membuat sejumlah industri pengolahan menghentikan produksi atau beroperasi jauh di bawah kapasitas normal.
Menurut Agus, industri manufaktur yang bergantung pada sistem just in time sangat rentan terhadap gangguan logistik.
"Gangguan pasokan bahan baku selama beberapa hari saja dapat menghentikan lini produksi dan menyebabkan kehilangan output yang signifikan," ujarnya.
Kementerian Perindustrian memperkirakan dampak bencana tersebut menahan nilai tambah manufaktur nasional di kisaran Rp11 triliun hingga Rp15 triliun.
Nilai tersebut merupakan kehilangan atau penundaan sementara, bukan kerusakan permanen terhadap kapasitas industri nasional.
Agus menekankan peran strategis Sumatera sebagai simpul logistik nasional membuat gangguan di wilayah tersebut berdampak luas hingga ke kawasan industri di Pulau Jawa.