MEDAN - Harga minyak dunia bergerak naik tipis pada perdagangan awal tahun 2026, menyusul penurunan tahunan terdalam sejak 2020.
Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan tekanan terhadap pasokan global.
Mengutip data Reuters pada Jumat (2/1/2026), harga minyak mentah Brent naik 14 sen menjadi US$ 60,99 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 14 sen ke US$ 57,56 per barel.
Baca Juga: Awal Tahun, Rupiah Dibuka Lemah ke Rp16.699/USD di Tengah Ketidakpastian Global Kenaikan harga dipicu eskalasi konflik antara Rusia dan Ukraina. Laporan menyebutkan serangan drone Ukraina menargetkan fasilitas energi Rusia, yang dinilai bertujuan menekan sumber pendanaan Moskow untuk operasi militernya.
Di sisi lain, Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan terhadap Venezuela. Pemerintahan Presiden Donald Trump menjatuhkan sanksi baru terhadap sejumlah perusahaan dan kapal tanker yang terlibat dalam sektor minyak, membatasi ekspor dan pergerakan kapal.
Hal ini diperkirakan memaksa perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, mencari solusi ekstrem untuk mencegah penutupan kilang, di tengah menumpuknya stok bahan bakar akibat tersendatnya ekspor.
Sepanjang 2025, harga Brent dan WTI masing-masing mencatat penurunan hampir 20%, menjadi penurunan tahunan terdalam sejak 2020. Kekhawatiran kelebihan pasokan global dan isu tarif dianggap lebih dominan dibandingkan risiko geopolitik.
Bagi Brent, pelemahan ini menjadi yang ketiga berturut-turut, mencatat rekor terpanjang dalam sejarah perdagangan minyak. Di AS, produksi minyak mencapai rekor tertinggi 13,87 juta barel per hari pada Oktober 2025.
Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok minyak mentah menurun pada pekan terakhir, sementara persediaan bensin dan distilat justru meningkat akibat tingginya aktivitas kilang.
Pergerakan harga minyak dunia pada awal 2026 menunjukkan bahwa pasar masih sensitif terhadap ketegangan geopolitik sekaligus dinamika pasokan global, sehingga investor tetap mengawasi perkembangan konflik dan kebijakan negara produsen minyak utama.*
(bs/ad)