MEDAN – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) dibuka melemah pada perdagangan awal tahun 2026.
Berdasarkan data Bloomberg, Jumat (2/1/2026) pukul 09.00 WIB, rupiah tercatat berada di level Rp16.699 per USD, melemah 0,08% dari posisi penutupan sebelumnya.
Selain rupiah, sejumlah mata uang Asia lainnya juga menunjukkan pergerakan variatif.
Baca Juga: IHSG Awali 2026 di Zona Hijau, BEI Targetkan Masuk 10 Besar Bursa Dunia Yen Jepang menguat 0,07%, dolar Singapura naik 0,06%, dan baht Thailand bertambah 0,13%.
Sebaliknya, dolar Taiwan melemah 0,36%, dolar Hong Kong turun 0,08%, serta peso Filipina melemah 0,02%.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan ditutup di kisaran Rp16.680-Rp16.710 per USD hari ini.
Ia menyoroti dampak risalah rapat kebijakan Federal Reserve Desember yang memunculkan ketidakpastian di pasar global.
"Meski Fed menurunkan suku bunga seperempat poin persentase, risalah rapat menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara pembuat kebijakan mengenai arah suku bunga di 2026. Hal ini membuat pasar sedikit berhati-hati," ujar Ibrahim.
Dari dalam negeri, tantangan ekonomi masih berat. Pemulihan daya beli masyarakat belum optimal, harga komoditas pangan dan energi masih tinggi, serta ketergantungan impor yang tinggi turut menekan stabilitas nilai tukar.
Menurut Ibrahim, kondisi ini membuat fundamental ekonomi Indonesia relatif lebih rentan dibandingkan negara tetangga di Asia Tenggara.
"Dengan tekanan eksternal dan volatilitas global, rupiah berada di bawah pengawasan ketat pelaku pasar. Investor perlu mencermati arah kebijakan moneter domestik dan global," tambahnya.
Seiring dengan pergerakan rupiah, pelaku pasar terus menanti kebijakan pemerintah dan BI untuk menjaga stabilitas ekonomi serta mengurangi risiko pelemahan lebih lanjut.*