ACEH UTARA — Warga Desa Pondok Baru, Kecamatan Bandar, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, mengeluhkan tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) pasca-banjir yang melanda wilayah tersebut.
Pertalite kini dijual dengan harga mencapai Rp 80.000 per liter, jauh di atas harga normal, dan ketersediaannya sangat terbatas.
Norman, salah seorang warga, mengatakan mereka terpaksa menempuh perjalanan kaki selama tiga jam ke Kamp Desa Seni Antara, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah, untuk mendapatkan BBM dan kebutuhan pangan.
Baca Juga: Kerja Sama Strategis MDLA-Merck: Perluas Akses Produk Kesehatan di Indonesia "Kami benar-benar terisolasi. Listrik masih padam. Jangan bilang listrik sudah menyala 100 persen di Bener Meriah, itu fitnah," tegas Norman, Rabu (10/12/2025).
Menurut Norman, satu-satunya titik pertemuan pedagang dan pembeli korban banjir berada di Kecamatan Permata, di mana harga Pertalite dijual Rp 35.000 per liter.
Sedangkan di perbatasan Aceh Utara, harga BBM sudah mencapai Rp 25.000 per liter, namun harus dipanggul berjerigen sejauh beberapa kilometer.
"Wajar saja mahal, karena mereka beli ke perbatasan Aceh Utara, kemudian dipanggul berjerigen-jerigen," tambahnya.
Norman berharap Presiden RI Prabowo Subianto dapat segera mengintruksikan kementerian terkait untuk melakukan pemulihan fasilitas vital, termasuk listrik dan sinyal komunikasi, agar kehidupan warga bisa kembali normal.
Banjir yang melanda Aceh pada awal Desember 2025 telah merendam 18 kabupaten/kota, dengan daerah terparah meliputi Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, dan Aceh Tengah.
Kondisi ini memperparah akses logistik dan distribusi kebutuhan pokok, termasuk BBM.*
(k/dh)