JAKARTA – Pemerintah Indonesia mempercepat dan memperluas cakupan Perjanjian Perdagangan Preferensial Indonesia-Turkiye (IT-PTA) sebagai langkah strategis menuju Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Turki (IT-CEPA).
Pernyataan ini disampaikan Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti, dalam pertemuan bilateral dengan Wakil Menteri Perdagangan Republik Turki, Mustafa Tuzc, di sela-sela Pertemuan Ke-4 Dewan Menteri Perdagangan D-8 di Kairo, Mesir, 2 Desember 2025.
Roro menekankan pentingnya fleksibilitas bagi kedua negara agar cakupan produk tidak terlalu sempit dan dapat mencerminkan kepentingan bersama. "Indonesia mendorong agar sektor kunci seperti tekstil, alas kaki, serta besi dan baja tetap dibahas agar manfaat perjanjian ini dapat dirasakan secara merata," ujarnya, Minggu (7/12/2025).
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Kuartal III-2025 Tembus 5 Persen, Didorong Konsumsi dan Investasi Perjanjian ini dianggap strategis untuk memperdalam hubungan ekonomi kedua negara sekaligus menjadi landasan penting menuju IT-CEPA. Data perdagangan menunjukkan tren positif:
pada 2024, total perdagangan Indonesia-Turkiye mencapai US$ 2,4 miliar dengan pertumbuhan rata-rata lima tahun sebesar 13,50%.
Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$ 1,5 miliar dengan ekspor utama meliputi besi atau baja non-paduan, baja tahan karat canai pipih, serat stapel buatan, kokas batubara, dan minyak kelapa sawit.
Roro menambahkan, Indonesia menargetkan perdagangan bilateral mencapai US$ 10 miliar, sehingga percepatan IT-PTA menjadi kunci untuk membuka potensi kerja sama yang lebih luas, termasuk sektor konstruksi, seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Saat ini, Turkiye menjadi tujuan ekspor terbesar ke-23 dan sumber impor ke-36 bagi Indonesia.*
(d/dh)