NIAS SELATAN — Dampak banjir bandang yang melanda Tapanuli Tengah (Tapteng), Tapanuli Selatan (Tapsel), Tapanuli Utara (Taput), dan Kota Sibolga terus meluas.
Selain menelan ratusan korban jiwa, bencana ini memutus infrastruktur vital termasuk jalur transportasi dan jaringan komunikasi hingga ke wilayah Nias Selatan.
Sudah delapan hari layanan Wi-Fi rumah tangga di sejumlah kawasan Nias Selatan tidak berfungsi.
Baca Juga: Update Korban Banjir dan Longsor Aceh-Sumut-Sumbar, BNPB: 776 Orang Tewas, 564 Masih Hilang Meskipun jaringan data seluler mulai pulih dua hari terakhir, kualitasnya masih sangat terbatas dan sering mengalami gangguan.
Kondisi tersebut menyulitkan warga untuk berkomunikasi, bekerja, hingga mengakses layanan darurat.
Bitvonline.com memantau langsung situasi di lapangan pada Kamis, 4 Desember 2025. S
ejumlah bahan pokok mengalami lonjakan harga signifikan. Cabai rawit naik menjadi Rp135.000 hingga Rp150.000 per kilogram dari harga normal sekitar Rp60.000.
Harga telur juga melambung dari Rp55.000 menjadi Rp95.000 per papan. Gas elpiji ukuran kecil yang biasa dijual Rp20.000 kini mencapai Rp30.000.
Beras, sebagai kebutuhan pokok utama, bahkan menjadi barang langka. Sejumlah toko dan kedai sembako memilih menutup usaha karena tidak memiliki lagi stok yang bisa dijual.
Ina Anton, 45 tahun, salah seorang pedagang yang ditemui Bitvonline.com, mengaku tidak berani membuka toko karena tidak memiliki persediaan beras.
"Kami takut diserbu pembeli tapi barangnya tidak ada. Kami sudah pesan dari Medan, tapi tidak bisa masuk karena jalan Tarutung–Sibolga masih putus. Jalan dari arah Padang Sidempuan ke Sibolga juga belum bisa dilewati kendaraan besar," ujarnya.
Kesulitan serupa dirasakan para pelaku usaha kecil. Ama Yove Laia, 35 tahun, pemilik warung mie, mengeluhkan lonjakan harga sembako yang membuat biaya operasional usahanya meningkat tajam.