MEDAN – Mata uang rupiah mengawali perdagangan pekan ini dengan penguatan tipis ke posisi Rp16.658 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (1/12/2025).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,10% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di level Rp16.675 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS naik 0,06% ke posisi 99,39.
Baca Juga: IHSG Menguat di Awal Pekan, Investor Cermati Potensi Penurunan Suku Bunga The Fed Sejumlah mata uang utama Asia lainnya juga menunjukkan penguatan. Yen Jepang menguat 0,40%, dolar Singapura 0,10%, won Korea Selatan 0,01%, dan peso Filipina 0,03%.
Sebaliknya, dolar Hong Kong melemah 0,03%, dolar Taiwan turun 0,09%, dan rupee India melemah 0,10%.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan pekan ini, dengan rentang potensi penutupan di kisaran Rp16.670–Rp16.710 per dolar AS.
Dari sisi global, sejumlah data ekonomi AS yang tertunda memberikan gambaran beragam, namun sentimen tetap positif bagi mata uang kawasan.
Para pelaku pasar memperkirakan The Fed akan melonggarkan kebijakan moneternya dalam pertemuan Desember 2025, dengan probabilitas pengurangan suku bunga sebesar 25 basis poin diperkirakan mencapai 85% menurut CME FedWatch Tool.
Di dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis kebijakan pemindahan dana pemerintah dari Bank Indonesia ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) akan mendorong pertumbuhan ekonomi sekitar 0,2% pada kuartal IV/2025.
Langkah ini diperkirakan akan mendukung pertumbuhan ekonomi sepanjang Oktober–Desember 2025 di kisaran 5,6–5,7%, seiring dengan paket stimulus pemerintah.
Sentimen global dan domestik ini menjadi faktor utama yang menggerakkan rupiah pada perdagangan awal pekan ini, sekaligus mempengaruhi sentimen investor menjelang akhir tahun.*