GRESIK - PT Freeport Indonesia (PTFI) tengah mengevaluasi kemungkinan membeli konsentrat tembaga dari PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) menyusul terhentinya operasi smelter di Gresik akibat longsor di tambang bawah tanah.
"PTFI saat ini tengah melakukan evaluasi terkait opsi pengambilan konsentrat tembaga dari Amman," kata VP Corporate Communications PTFI, Katri Krisnati, Jumat (21/11/2025).
Kajian ini mencakup aspek teknis, operasional, keekonomian, serta kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
Baca Juga: ESDM Izinkan Freeport Aktifkan Lagi DMLZ dan Big Gossan, Audit Total Jadi Syarat Utama Langkah ini muncul setelah Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, meminta Direktur Utama PTFI, Tony Wenas, mempertimbangkan opsi pembelian konsentrat dari Amman, sebagai solusi sementara agar smelter di Gresik bisa kembali beroperasi.
Saat ini, smelter milik Freeport tidak beroperasi karena kekosongan pasokan akibat penghentian aktivitas tambang bawah tanah pada September 2025.
Di sisi lain, Amman Mineral sendiri menghadapi force majeure karena insiden kebakaran di smelter mereka, sehingga perusahaan mengajukan permohonan ekspor konsentrat tembaga.
Meski operasi smelter terganggu, Freeport McMoran (FCX) melaporkan produksi dari tambang bawah tanah Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan tetap berjalan sejak akhir Oktober 2025.
Pemulihan produksi tambang Grasberg Block Cave direncanakan mulai kuartal kedua 2026.
"FCX memperkirakan produksi tembaga dan emas PTFI dari distrik mineral Grasberg pada 2026 akan serupa dengan estimasi 2025, yaitu sekitar 1,0 miliar pon tembaga dan 0,9 juta ons emas," tulis manajemen.
Selain itu, perusahaan menargetkan rata-rata produksi tahunan meningkat hingga 1,6 miliar pon tembaga dan 1,3 juta ons emas pada periode 2027–2029.
Langkah ini menjadi sorotan karena potensi kolaborasi antar perusahaan tambang nasional dapat menjadi solusi menjaga stabilitas pasokan mineral strategis di tengah tantangan operasional.*