JAKARTA - Harga Bitcoin (BTC) kembali tertekan, merosot hampir 5% dalam 24 jam terakhir, sehingga diperdagangkan di kisaran 89.796–90.000 dolar AS atau sekitar Rp1,5 miliar per keping.
Koreksi ini menjadi salah satu penurunan terbesar dalam sepekan terakhir, di tengah sentimen pasar kripto global yang melemah dan ketidakpastian kondisi makro ekonomi.
Jika dibandingkan dengan puncaknya pada Oktober lalu di atas 126.000 dolar AS (sekitar Rp2,11 miliar), nilai Bitcoin kini turun hampir 30%.
Baca Juga: PINTU Hadirkan Flexi Earn Super Rate Up, Nabung Crypto Bisa Dapat Imbal Hasil Hingga 25% Para analis menilai kombinasi kekhawatiran terkait arah suku bunga AS dan gejolak pasar global yang goyah setelah reli panjang menjadi pemicu koreksi ini.
"Tekanan jual semakin kuat karena perusahaan dan institusi terdaftar menutup posisi mereka, yang memperparah risiko penularan di seluruh pasar," ujar Joshua Chu, Ketua Asosiasi Web3 Hong Kong.
Sementara itu, Toko crypto menyebut pasar kripto kini memasuki fase fear mode, di mana investor lebih memilih menahan uang tunai daripada mengambil risiko lebih lanjut.
"Ketidakpastian global seperti potensi kenaikan suku bunga, pelemahan likuiditas, dan perilaku risk-off institusi menjadi tekanan tambahan yang membuat BTC kesulitan mempertahankan posisi di atas 90.000 dolar AS," tulis Tokocrypto di blog resminya.
Meskipun demikian, analis teknikal menilai peluang rebound masih terbuka, asalkan BTC mampu bertahan di level support sekitar 89.000 dolar AS.
Kombinasi faktor teknikal dan sentimen global akan menentukan arah pergerakan harga dalam beberapa hari ke depan.*
(v/um)