MEDAN – Aksi "terjun bebas" Bitcoin berlanjut pada Selasa (18/11/2025), dengan harga menyentuh level psikologis US$90.909 atau sekitar Rp1,5 miliar.
Pelemahan ini merupakan yang terendah dalam enam bulan terakhir dan menyeret sebagian besar koin alternatif (altcoin) ikut melemah.
Data dari CoinGecko mencatat, Bitcoin berayun antara US$90.909 hingga US$91.511 pada Selasa pagi, menandai penurunan -2,1% sepanjang tahun 2025 (YTD).
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp16.750 per Dolar AS, Investor Tunggu Data Nonfarm Payrolls AS Dalam dua minggu terakhir, harga aset digital ini merosot lebih dari 14%, menihilkan seluruh catatan positif sepanjang tahun.
"Penurunan nilai aset digital saat ini mencerminkan pergeseran risiko yang lebih luas yang didorong oleh konvergensi faktor-faktor makro yang tidak menguntungkan," ujar Juan Leon, strategis investasi senior di manajer aset Bitwise, dikutip dari Decrypt.
Legitimasi Bitcoin yang sempat meningkat setelah peluncuran ETF spot di Wall Street nyaris hilang seiring kapitalisasi pasar BTC 'menguap' US$600 miliar dibandingkan puncak bulan lalu.
Matthew Hougan, kepala investasi di Bitwise Asset Management, menambahkan, "Sentimen pasar ritel masih sangat negatif sehingga potensi penurunan harga tetap ada, meski ada kemungkinan pemulihan tahun depan."
Kondisi ini diperparah oleh tekanan dari mega whales yang berada dalam posisi rugi signifikan, menurut Chris Newhouse, direktur riset di Ergonia.
Faktor makro seperti spekulasi pemotongan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Desember 2025 serta laporan keuangan Nvidia Corp. turut mendorong aksi jual masif.
Adam McCarthy, analis riset di Kaiko, menyatakan bahwa kekhawatiran pasar terkait gelembung AI dan arah kebijakan The Fed menjadi dua faktor utama yang memengaruhi sentimen risiko di kripto menjelang akhir tahun.
Altcoin pun kompak melemah:- Ethereum (ETH) turun 3,5% ke US$3.037,3- XRP minus 4% ke US$2,15- Solana (SOL) turun 3,9% ke US$133,57- Cardano (ADA) melemah 4,6% ke US$0,46- Dogecoin (DOGE) turun 3,8% ke US$0,15
Pasar kripto berada di persimpangan ketidakpastian, dengan investor menunggu arah kebijakan The Fed dan laporan keuangan perusahaan-perusahaan teknologi besar sebagai penentu tren hingga akhir 2025.*