MEDAN - Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis pada perdagangan Kamis (6/11/2025), meski sentimen global masih menekan mata uang Garuda.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 08.30 WIB, rupiah menguat 18 poin atau 0,11% ke level Rp16.699 per dolar AS.
Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup melemah 9 poin di posisi Rp16.717 per dolar AS.
Baca Juga: Fasilitasi Kerja Sama Antar Desa 2025, Upaya Simalungun Tingkatkan Kesejahteraan dan Pembangunan Nagori Indeks dolar AS (DXY) tercatat berada di level 100,034, turun tipis 0,17 poin atau 0,17%.
Secara regional, dolar AS melemah terhadap yen Jepang 0,19%, baht Thailand 0,07%, ringgit Malaysia 0,16%, dolar Taiwan 0,02%, dan dolar Singapura 0,1%.
Namun, dolar AS justru menguat terhadap won Korea 0,29%, peso Filipina 0,01%, dan dolar Hong Kong 0,01%.
Pengamat ekonomi dan mata uang dari PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan rupiah masih menghadapi tekanan eksternal akibat penguatan dolar AS, meski kondisi ekonomi domestik relatif solid.
"Dolar AS terus menguat sejak pekan lalu, terutama setelah The Fed menyatakan pemotongan suku bunga Desember belum pasti. Meskipun The Fed memangkas suku bunga 25 basis poin pada Oktober, langkah ini sudah diantisipasi pasar sehingga tidak menahan penguatan dolar," jelas Ibrahim.
Data CME FedWatch menunjukkan pasar memperkirakan peluang 69,8% The Fed akan kembali menurunkan suku bunga 25 basis poin pada Desember, sementara 30,2% memperkirakan suku bunga dipertahankan.
Di sisi domestik, sentimen positif datang dari data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).
Ekonomi nasional tumbuh 5,04% year on year (YoY) pada kuartal III-2025, menandakan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Secara quarter to quarter (QtQ), pertumbuhan tercatat 1,43% dibanding kuartal II-2025, sementara secara kumulatif Januari–September 2025, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,01% YoY.