JAKARTA— PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) mengungkapkan, perseroan kini tidak lagi mendapatkan dukungan fasilitas kredit dari perbankan.
Kondisi ini membuat divestasi jalan tol menjadi strategi utama untuk menyehatkan keuangan perusahaan.
Direktur Utama WSKT Muhammad Hanugroho menyebut, perusahaan menargetkan penjualan beberapa ruas tol secara bertahap hingga 2027 untuk menjaga arus kas dan nilai aset.
Baca Juga: Merger Waskita-Hutama Karya Terungkap, Proses Konsolidasi BUMN Karya Menjelang Final Untuk tahun 2025, dua ruas tol akan dilepas, dengan penyelesaian transaksi ditargetkan pada Desember mendatang.
Selain itu, sejumlah ruas tol masih dalam tahap konstruksi untuk meningkatkan konektivitas dan nilai aset, seperti Bogor–Ciawi–Sukabumi (Bocimi) yang diperpanjang hingga Sukabumi Barat, serta Kawiagung–Betung yang dikerjakan oleh Hutama Karya.
Optimasi juga dilakukan pada ruas Trans Jawa, termasuk Solo–Yogyakarta dan Bawen–Ungaran, yang diharapkan beroperasi akhir Desember 2025.
Hanugroho menegaskan, penjualan ruas tol berikutnya pada 2026 meliputi Pemalang–Batang dan Pasuruan–Probolinggo, serta beberapa ruas minoritas seperti Depok–Antasari yang memiliki kinerja lalu lintas baik.
Selain jalan tol, WSKT juga telah melepas aset lain seperti Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) berkapasitas 10 megawatt dan properti di Bekasi untuk memperkuat arus kas.
"Bisnis jalan tol memiliki margin tipis dengan periode pengembalian panjang. Dengan adanya gap financing, divestasi menjadi fokus utama untuk memenuhi kewajiban kreditur," ujar Hanugroho.
Langkah ini sekaligus menjadi strategi utama WSKT menghadapi keterbatasan pembiayaan baru dari perbankan.
Menurut Hanugroho, jika tidak dilakukan divestasi, arus kas dan likuiditas perusahaan dapat terancam, sehingga berpotensi memengaruhi kepemilikan jalan tol di masa depan.
"Saat ini, tanpa fasilitas bank baru, divestasi menjadi satu-satunya jalan untuk menyehatkan keuangan perusahaan dan menjaga nilai aset tetap optimal," pungkasnya.*