JAKARTA— Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada penutupan perdagangan hari ini.
Berdasarkan data pasar, rupiah ditutup di level Rp16.708 per USD, melemah 32 poin atau sekitar 0,19 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.676 per USD.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan, rupiah sempat berada di kisaran Rp16.702 hingga Rp16.748 per USD, dengan year-to-date (ytd) return tercatat 3,57 persen.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah ke Rp16.714/USD, Apa Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia? Sementara berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp16.724 per USD, melemah 60 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan dolar AS akibat sikap hati-hati bank sentral Amerika (The Fed) terhadap kebijakan suku bunga.
Ketua The Fed, Jerome Powell, sebelumnya menegaskan bahwa pelonggaran moneter belum menjadi prioritas utama, dan keputusan pada Desember belum dapat dipastikan.
Ketidakpastian ini diperkuat dengan adanya perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed. Sebagian menilai inflasi masih perlu diwaspadai, sementara yang lain melihat perlambatan pada sektor tenaga kerja.
Kondisi ini membuat dolar AS tetap kuat di pasar global.Selain itu, penutupan sebagian pemerintahan Amerika Serikat yang sudah berlangsung lebih dari 30 hari turut memperburuk sentimen pasar.
Jika kebuntuan ini berlanjut, maka penutupan tersebut berpotensi mencatat rekor terpanjang dalam sejarah AS.Faktor domestik juga turut menekan rupiah.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Oktober 2025 sebesar 0,28 persen (mtm), naik dari 0,21 persen pada September. Secara tahunan, inflasi mencapai 2,86 persen (yoy), sementara secara tahun kalender (year to date) berada di 2,10 persen.
Kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang terbesar inflasi bulan ini dengan kenaikan 3,05 persen dan andil 0,21 persen, didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan.
Di sisi lain, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mencatat inflasi 0,28 persen, dengan cabai merah, telur ayam ras, dan daging ayam ras sebagai komoditas pendorong utama.