MEDAN - Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada Selasa (4/11/2025) pagi, mengikuti tren penguatan greenback di pasar global.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.07 WIB, rupiah terdepresiasi 0,23% atau 38 poin ke posisi Rp16.714 per USD.
Sementara itu, indeks dolar AS menguat 0,11% ke level 99,97. Dalam sebulan terakhir, rupiah tercatat melemah 0,31% dan selama 12 bulan terakhir turun hampir 6% dibandingkan dolar AS.
Baca Juga: Nol Persen Tarif, Bukan Nol Persen Kedaulatan Menurut model makro global Trading Economics, rupiah diperkirakan akan diperdagangkan pada level Rp16.576,34 pada akhir kuartal ini, dan berpotensi menguat ke Rp16.291,34 dalam 12 bulan ke depan.
Penguatan dolar AS terjadi setelah pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang menandai membaiknya hubungan kedua negara, meski pasar masih mewaspadai ketidakpastian ekonomi global.
Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, juga memperingatkan bahwa penurunan suku bunga pada Desember belum bisa dipastikan karena penutupan pemerintah AS (government shutdown) yang memasuki pekan kelima.
Di dalam negeri, Bank Indonesia masih membuka peluang pelonggaran moneter lebih lanjut seiring ekspektasi inflasi moderat hingga 2026.
Inflasi Indonesia pada Oktober tercatat naik ke 2,86%, namun masih berada dalam target BI 1,5%–3,5%.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan, rupiah berpotensi bergerak di rentang Rp16.670–Rp16.730 pada perdagangan hari ini, dengan tekanan dari penguatan dolar yang dipicu ketidakpastian keputusan The Fed serta penundaan pembahasan anggaran di Senat AS.
"Penutupan pemerintah AS menunda rilis data ekonomi utama, meningkatkan kekhawatiran terhadap perekonomian global, sehingga dolar terus menguat dan rupiah berisiko menembus Rp16.800–16.900," ujar Ibrahim.
Disclaimer: Berita ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual instrumen keuangan. Semua keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.*