MEDAN — Pasar aset kripto global mengalami koreksi setelah pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Kamis (30/10).
Komite kebijakan moneter Amerika Serikat tersebut memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, namun pernyataan lanjutan dari Ketua The Fed, Jerome Powell, membuat pasar kehilangan momentum positif.
Berdasarkan data Ajaib Kripto, dalam 24 jam terakhir Bitcoin (BTC) melemah sekitar satu persen dan kini bergerak di kisaran US$109.400 atau sekitar Rp1,8 miliar.
Baca Juga: Jalan Vital Kelurahan Singkep Mulai Diperbaiki, Warga Sambut Gembira Sebelumnya, Bitcoin sempat menguat menjelang keputusan FOMC, namun kembali terkoreksi setelah komentar Powell memicu kehati-hatian di kalangan pelaku pasar.
"Komentar ini mengubah sentimen dengan cepat," ujar Financial Expert Ajaib, Panji Yudha, dalam pernyataan resminya, Jumat (31/10).
Menurut Panji, pasar awalnya berharap pemangkasan suku bunga dapat memicu reli aset berisiko seperti kripto.
Namun, Powell menegaskan bahwa pemotongan suku bunga lanjutan pada Desember "bukanlah sesuatu yang pasti", yang kemudian mengubah ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter The Fed.
"Rally yang seharusnya didorong oleh pemotongan suku bunga gagal terpicu karena pasar melihat prospek pelonggaran jangka pendek (near-term easing) menjadi lebih kecil," jelas Panji.
Akibatnya, harga Bitcoin ikut tergelincir ke kisaran US$107.000–US$109.000 atau sekitar Rp1,77–Rp1,8 miliar.
Meskipun penurunan harga terjadi, Panji menilai bahwa fundamental jangka panjang pasar kripto masih positif.
Ia menyoroti bahwa shutdown pemerintah AS telah menunda rilis data ekonomi penting, yang membuat pasar bergerak dalam ketidakpastian.
Namun, ia tetap optimistis terhadap potensi pemulihan, terutama jika kesepakatan dagang AS–China dapat tercapai dalam waktu dekat.