JAKARTA – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Selasa (28/10/2025). Berdasarkan data dari situs resmi Logam Mulia, harga emas turun sebesar Rp45.000 menjadi Rp2.282.000 per gram.
Sementara itu, harga buyback atau harga jual kembali juga ikut terkoreksi Rp45.000 menjadi Rp2.147.000 per gram.
Koreksi harga ini terjadi di tengah tren fluktuatif harga emas global yang masih dipengaruhi oleh penguatan dolar AS serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Baca Juga: IHSG Anjlok 1,87 Persen, Sentimen Penyesuaian Metodologi MSCI Tekan Pasar Dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 48 Tahun 2023, pemerintah telah menetapkan bahwa konsumen akhir dibebaskan dari Pajak Penghasilan (PPh) saat membeli emas batangan.
Namun, pengusaha emas tetap wajib memungut PPh Pasal 22 sebesar 0,25 persen dari harga jual — turun dari ketentuan sebelumnya sebesar 0,45 persen.
Harga emas tersebut berlaku di Butik Emas Graha Dipta Pulo Gadung, Jakarta, dengan kemungkinan terdapat perbedaan harga di gerai penjualan lainnya.
Berikut rincian harga emas batangan Antam per Selasa (28/10/2025):- 1 gram : Rp 2.282.000- 5 gram : Rp 11.225.000- 10 gram : Rp 22.370.000- 25 gram : Rp 55.760.000- 50 gram : Rp 111.355.000- 100 gram : Rp 222.560.000- 250 gram : Rp 556.090.000- 500 gram : Rp 1.111.900.000- 1.000 gram : Rp 2.222.600.000
Sementara itu, harga emas Galeri24, anak usaha PT Pegadaian, juga mengalami penurunan pada hari yang sama.
Berdasarkan laman resmi Galeri24, harga emas turun menjadi Rp2.428.000 per gram, sedangkan harga buyback berada di Rp2.269.000 per gram.
Berikut rincian harga emas Galeri24 per Selasa (28/10/2025):- 1 gram : Rp 2.428.000- 2 gram : Rp 4.782.000- 5 gram : Rp 11.868.000- 10 gram : Rp 23.672.000- 25 gram : Rp 59.033.000- 50 gram : Rp 117.973.000- 100 gram : Rp 235.828.000- 250 gram : Rp 589.280.000- 500 gram : Rp 1.177.979.000- 1.000 gram : Rp 2.355.956.000
Pelemahan harga emas hari ini mencerminkan kehati-hatian investor terhadap potensi perubahan arah kebijakan moneter global, yang masih menjadi faktor utama penggerak harga logam mulia di pasar internasional.*
(kp/M//006)